Es Campur “Pak Said”, sejak tahun 1954

Mengobrol sambil menikmati semangkuk Es Campur di warung Pak Said yang suka berkelakar dan bercerita tentang masa lalu sungguh menyenangkan. Warung Es Campur Pak Said yang terletak di jalan menuju Kampung Kauman dari arah Jl. Gajah Mada, atau tepatnya di tepi jalan sebelah barat Masjid An-Nur Kota Batu ini, adalah warung tenda sederhana dengan gerobak besar, beberapa bangku panjang atau “dingklik” panjang, serta tenda seadanya.

Di atas gerobak berjajar stoples kaca berisi aneka cairan dan bahan pelengkap untuk isi Es Campur, seperti: sirup merah, tape, tape ketan hitam, mutiara, kolang-kaling, kelapa muda dll. Cara menyajikannya juga cukup sederhana, bahan-bahan tersebut dicampur dalam wadah mangkuk, lalu dituangi susu kaleng coklat secukupnya, dan terakhir diberi es serut secukupnya dan Es Campur siap dihidangkan. Sudah menjadi pemandangan wajar dan biasa jika stoples-stoples yang berisi cairan manis tersebut dikerubungi oleh tawon-tawon kecil yang beterbangan. Sering beberapa tawon tersebut tercemplung ke dalam stoples-stoples tersebut, namun bagi pembeli sepertinya hal tersebut tidak terlalu mengganggu.

“Saya sudah kebal dengan sengatan tawon-tawon ini.” Ujar Pak Said. “Memang tawon-tawon tersebut tidak selalu menyengat, namun kadang kala juga menyengat.”

Dengan gaya khas Bahasa Jawa ngoko / non formal ala wongbatu, Pak Said melanjutkan kisahnya, “Saya mulai berjualan Es Campur sejak tahun 1954. Dulu warung saya tidak di sini, tapi di bawah pohon beringin di dekat kantor pos. Halaman Masjid An-Nur ini dulu ditempati tiga bangunan, yang menghadap ke barat adalah Kantor Telepon dan Telegram, lalu di tengah adalah Kantor Pos, dan yang di sebelah timur adalah Pom Bensin. Lalu pada tahun 1982 Pasar Besar Kota Batu yang dulu terletak di Alun-alun terbakar hebat. Para pedagang tersebar di sekitar pasar yang sudah hangus untuk membuka lapak mereka, pada saat itulah saya pindah ke tempat yang saya tempati sampai sekarang ini.”

Sebuah kisah yang sangat menarik. Bisa dikatakan, Pak Said adalah saksi hidup dari sebagian kecil sejarah Kota Batu. Mungkin jika kisah-kisah dari wongbatu-wongbatu tempo dulu dikumpulkan, akan menjadi satu rangkaian kisah sejarah yang menarik. Banyak hal yang telah dialami oleh wongbatu seperti Pak Said ini, namun tentu saja semuanya tidak tercatat, hanya tinggal dalam kenangan pahit manis yang mungkin masih ada dalam ingatan, atau mungkin juga sudah terlupakan.

***

Jatz, 17 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s